Frau : Ikatan Persahabatan Leilani Hermiansih dan Oskar dalam Sebuah Rumah

Merakit mesin penenun hujan

Hingga terjalin terbentuk awan

Semua tentang kebalikan

Terlukis, tertulis, tergaris, di wajahmu

 

Penggalan lirik tersebut tentunya terdengar sangat familiar bagi para pecinta musik indie di Yogyakarta. Frau, sebuah band asal Kota Gudeg merangkai kata-kata tersebut ke dalam lagunya yang berjudul Mesin Penenun Hujan.

Di balik nama Frau, terdapat sosok bernama Leilani Hermiansih yang merupakan vokalis sekaligus pianis dari band tersebut. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara keturunan pasangan Suhirdjan dan Joan Miyo, yang juga memiliki latar belakang sebagai musisi. Leilani Hermiansih atau yang kerap dipanggil Lani, telah menempuh dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012 silam. Lanjutan pendidikanya di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara pun juga telah diselesaikanya pada tahun 2014 silam.

Hingga saat ini di karir musiknya bersama Frau, Ia telah berhasil menggarap dua album fantastis bertajuk Starlit Carousel dan Happy Coda. Deretan lagu dari album-album tersebut dirangkai dengan nuansa yang unik dan mampu dengan mudah memanjakan telinga para pendengarnya. Hal tersebut mengantarkan Lani menjadi sosok yang sangat ditunggu-tunggu kehadiranya oleh orang-orang. Setiap pertunjukan Frau pun selalu ramai penonton yang ingin mendengarkan secara langsung suara cantik dan kegemulaian nada-nada piano dari sosok Lani.

Sejak melambungnya Frau di scene musik Yogyakarta pada tahun 2009 silam, banyak orang yang hanya melihat keberadaan Lani seorang di balik lagu-lagu Frau. Bahkan tidak sedikit pula orang yang melihat Frau sebagai sebuah proyek solo ketimbang sebuah band. Padahal di balik nama Frau sendiri, terdapat sosok penting lain di samping keberadaan Lani.

Sosok tersebut bernama Oskar, yang ternyata memiliki peranan besar di balik terciptanya lagu-lagu indah milik Frau. Dan terlebih lagi, keberadaan Oskar merupakan hal yang sangat penting bagi Lani dalam karir musiknya bersama Frau.

Di setiap panggung yang Frau, Lani selalu sibuk memukau para penonton dengan keelokan lelaguanya. Melalui pertunjukan dari satu panggung ke panggung yang lain tersebut, maka dapat dilihat pula sebuah piano yang selalu setia menemani Lani dalam setiap aksinya. Ialah Oskar, sebuah piano yang selama ini bersama dengan Lani memberikan detak jantung bagi Frau.

Oskar, sejatinya adalah sosok berwujud piano digital bermerk Roland seri RD700SX buatan tahun 1990-an milik Lani.  Lani mendapatkanya di pertengahan tahun 2008 sebagai hadiah kelulusanya di tingkat Sekolah Menengah Akhir. Ia pun kemudian memberinya nama pangilan “Oskar”, dan memperlakukanya dengan penuh sayang.

Lani dan Oskar pada tahun 2008 membentuk Frau sebagai sebuah “rumah” bagi persahabatan mereka berdua. Keduanya pun pada awalnya mulai menciptakan lantunan-lantunan lagu dan merekamnya dengan metode yang seadanya. Hasil rekaman tersebut kemudian diunggah di halaman MySpace milik Frau dan menorehkan banyak perhatian publik. Hal tersebut pun akhirnya mengantarkan Lani dan Oskar menggarap album perdananya yang berjudul Starlit Carousel.  Digunakalah pula nama Frau sebagai nama band dari debut album tersebut.

Di mata Lani, Oskar pun dilihatnya sebagai sosok yang hidup sebagai seorang sahabat. Ikatan yang dimiliki antar keduanya pun merupakan suatu ikatan persahabatan yang kuat. Hal tersebut sangat terlihat dimana di setiap panggug yang dilewati Frau, Lani selalu membawa piano kesayanganya tersebut. Dan tanpa adanya Oskar di atas panggung bersamanya, Lani pun akan menjuluki dirinya sebagai  Lani  ketimbang sebagai Frau.

Berkat adanya Oskar di samping Lani, beragam pencapaian pun diraih oleh Frau maupun Lani secara individual. Rolling Stone Indonesia memberi penghargaan kepada Frau atas kedua albumnya yaitu Starlit Carousel sebagai satu dari 20 album terbaik tahun 2010 dan Happy Coda sebagai salah satu dari 20 album terbaik tahun 2013. Majalah Tempo juga melabeli Frau sebagai Tokoh Seni 2010 melalui terbitanya.  Lani pun kemudian mendapatkan beasiswa di program magister Antropologi Sosial (Ethnomusicology) di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara yang Ia capai berkat karir musiknya bersama Oskar mealui Frau. (LMMA/MGG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *