Angkringan-Angkringan Kampus yang Melegenda, Menemani dari Masa ke Masa

Banyaknya pilihan kampus, baik swasta maupun negeri, menjadi salah satu daya tarik kota Jogja bagi orang-orang yang ingin meneruskan studi. Lekat dengan kata ‘murah’ dan ‘hangat’, juga seringkali jadi alasan mengapa para pendatang memilih hijrah ke Jogjakarta. Makanan yang dijajakan di ruko-ruko atau pinggir jalan sepanjang hari, dengan macam variasi tapi tetep gak menguras kantong, membuat Jogja jadi tempat yang salah bagi kamu yang lagi program diet, Balamuda. Begitupun di sekitar UNY,  lokasi di mana ‘harga mahasiswa’ jadi teknik marketing andalan buat para penjual makanan, yang bikin kamu gak perlu capek-capek muterin UNY cuma buat nyari makanan murah.

Angkringan, yang cukup banyak tersebar di pinggir-pinggir jalan di daerah UNY, menjadi primadona bagi kebanyakkan mahasiswa UNY  yang lagi laper atau pengen sekadar nongkrong bareng temen. Sepertinya, pilihan makanan yang beragam, murah dan tinggal ngambil,  yang bikin pembeli jadi betah lama-lama di sana. Nah, ini adalah beberapa Angkringan di sekitar UNY yang sudah melegenda dan terkenal, Balamuda:

Angkringan Felix dan Temon

Lokasi: Pertigaan Sebelah LPPM UNY (Depan FIS UNY)
Jam buka: 9 Pagi – 6 Sore
Harga makanan dan minuman: 1rb – 3rb

Angkringan yang sudah di ada di depan FIS UNY sejak tahun 1994 ini, awalnya adalah milik Pak Felix pribadi. Namun, setelah 3 bulan sejak pertama kali jualan, Pak Felix merasa takut gak bisa konsisten, yang bikin dia milih buat ngejual sebagian warungnya ke Pak Temon. Pria kelahiran Klaten, 2 Februari 1969 ini, awalnya punya kerjaan sebagai pegawai fotocopy di tahun 1987 – 1993. Ketertarikan Pak Felix buat buka Angkringan bermula dari kebiasaannya makan di  angkringan waktu jam istirahat semasa bekerja sebagai pegawai fotocopy. Dia juga sering ngobrol bareng penjaga Angkringan tempatnya makan, sampe pada satu titik di mana ia merasa kalo buka angkringan adalah lahan yang sangat prospek untuk mencari rejeki.

Di tahun 2012-2016, Pak Felix juga sempat buka usaha laundry, tapi beriringan dengan usaha berjualan angkringannyaa. Namun, karena beberapa hal, Pak Felix merasa kalo keuntungan dari buka usaha laundry sangatlah kurang. Ia pun menyudahi peruntungannya di dunia

per-laundry-an, Balamuda. Gagal dalam usaha laundry, membuat Pak Felix memutar otak untuk mencari tambahan diluar berdagang angkringan. Dengan hype-nya yang sangat tinggi saat ini, Pak Felix pun juga ikut kepincut buat mencoba mengadu nasib menjadi Driver Ojek Online. Meski baru dimulai sejak 13 Maret 2017 kemarin sebagai Driver Ojek Online, tapi penghasilan tambahan dari Pak Felix cukup lumayan, Balamuda. Selain itu, saat sedang ngetem di daerah Gg. Guru dan Gg Bayu Gejayan, ada juga beberapa penumpang-penumpang ojek online yang mengenali Pak Felix saat lagi beroperasi. Ungkapan para penumpang saat bertemu Pak Felix pun beragam, ada yang bilang “Ealah, Pak Felix. Sekarang jadi ojek online pak?’, “Lho, angkringan gimana, Pak?”,” “Bentar, Pak, itu resletingnya belum ditutup!”. Ehehe, yang terakhir becanda, ya Balamuda.

Namun, meski punya kegiatan tambahan sebagai ojek online, tidak membuat cita rasa dan harga dari makanan di Angkringan Pak Felix berubah. Gorengan yang tetap dijual seharga 2000 untuk 3 gorengan, Nasi Sambel seribuan, Sate seribuan, kacang tanah 500an, selalu ludes dihabisi pembeli sebelum datang maghrib. Namun, kata Pak Felix, makanan yang paling banyak dicari oleh pembeli di angkringannya adalah nasi sambel. Kekhasan dari rasa sambel milik nasi sambel Pak Felix, membuatnya harus menghabiskan 150 bungkus nasi sambel setiap harinya untuk mengenyangkan perut pembeli. Bahkan, menurut pengakuan Pak Felix, ada 2 pelanggan setia yang sejak awal mereka masuk kuliah sampe melanjutkan studi s3-nya, masih makan di Angkringan Pak Felix & Temon ini lho, Balamuda.

Angkringan Pak Pendi

Lokasi: Depan Kolam Renang UNY
Jam buka: 3 Sore – 9 Malam
Range harga: 500 rupiah – 3rb

Yang kedua nih, Balamuda, satu angkringan yang masih eksis sampe sekarang, yaitu Angkringan Pak Pendi. Sudah nangkring di depan kolam renang UNY sejak 1989, membuat Pak Pendi sudah memilikki pembeli dari 3 Generasi. Tak jarang juga, alumni-alumni sebuah kampus yang dulunya kuliah di Jogja, bela-belain datang hanya untuk mampir ke Angkringan sembari mengulang kembali kenangan mereka di masa lalu.

Pria kelahiran klaten 1960 ini, memilih angkringan  sebagai mata pencahariannya bukan tanpa alasan, Balamuda. Dulunya, Pak Pendi adalah seorang tukang becak di tahun 78. Namun, karena mayoritas di daerah asalnya berdagang angkringan, kerabat-kerabatnya di sana pun menyarankan Pak Pendi untuk ikut berjualan angkringan, dengan alasan lebih menguntungkan. Awalnya ada sedikit keraguan, saat Pak Pendi memutuskan pindah dari Klaten ke Jogja untuk berjualan angkringan. Namun tak disangka, ternyata angkringan Pak Pendi laris manis, bahkan sampe sekarang.  Tak hanya dari makanan, namun minuman pun juga jadi favorit para pelanggan Pak Pendi. Pelanggan Pak Pendi menganggap, bahwa Teh Hangat buatan Pak Pendi sangat enak. Hal tersebut membuat Pak Pendi harus rela menghabiskan 5kg gula untuk menyajikan teh hangat kepada pembeli setiap hari.

Angkringan Pak Panut

Lokasi: Gor Klebengan
Jam buka: 7 malam – Habis
Range harga makanan dan minuman: 500 rupiah – 3rb

Memilikki tagline “Tempat Gaul Asyik ala Klasik” yang tertulis di spanduk tepat di atas angkringan miliknya, Angkringan Pak Panut memang bisa jadi tempat yang tepat untuk angkringan-talk, alias ngobrol ngalor ngidul bareng temen-temen di angkringan. Tak hanya itu, penyajian makanan angkringan yang dilakukan oleh Pak Panut juga gak biasa, Balamuda. Semua makanan yang kamu pesan, akan di bakar terlebih dahulu, kemudian diberi kecap selama proses pembakaran. Hasilnya, makanan di Angkringan Pak Panut jadi terasa berbeda dibandingkan angkringan-angkringan lain.

Pria yang dulunya berjualan es tung-tung di Jakarta pada tahun 1975-1992 ini, mengaku bahwa berjualan angkringan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Memilikki kegemaran makan banyak, Pak Panut tak perlu repot jauh-jauh cari makan saat perutnya keroncongan. “Tinggal ngambil dagangan aja,” katanya santai.

Keunikkan yang disuguhkan di Angkringan Pak Panut, membuat kenangan tersendiri bagi beberapa pembeli. Ada beberapa pembeli dari luar kota, yang dulunya kuliah di Jogja, rela kembali lagi ke kota Daerah Istimewa, demi merasakan makanan di angkringan Pak Panut. Menurut Pak Panut sendiri, makanan yang paling cepat habis di Angkringannya adalah sate usus. Dalam sehari, beliau bisa menghabiskan sekitar 200 tusuk sate usus. Untuk gorengannya, bisa mencapai 1500 gorengan per-hari yang beliau stok untuk mengisi perut-perut pembeli yang kelaparan.

Dari ketiga angkringan yang disebutin di atas, mana yang udah pernah kamu datengin, Balamuda? Atau mungkin, salah satu angkringan tadi adalah tempat kamu nongkrong bareng temen-temen?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *